Menanggapi Aksi Iklim Daerah dengan Target Iklim Indonesia, Rezky Satria Tama Soroti Kerentanan Morowali Utara
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 27 Nov 2025
- visibility 20
- print Cetak

Ket: Rezky Satria Tama (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MAKASSAR – Rezky Satria Tama, Koordinator Dewan Perwakilan Organisasi IMA Sulteng–Makassar, kembali mengingatkan pentingnya aksi iklim terukur di daerah, khususnya di Sulawesi Tengah yang kini berada pada tingkat kerentanan tinggi terhadap perubahan iklim.
Menurut Rezky, Sulawesi Tengah adalah salah satu provinsi yang paling rentan di Indonesia. Variasi cuaca yang ekstrem dalam beberapa tahun terakhir telah meningkatkan risiko bencana dan memperburuk kondisi lingkungan di berbagai wilayah.
“Sulawesi Tengah menghadapi ancaman nyata perubahan iklim. Kondisi iklim yang tidak stabil itu secara langsung menaikkan risiko bencana,” ujarnya.
Sulawesi Tengah juga menjadi pusat industri nasional. Dua kawasan industri besar—Indonesia Morowali Industrial Park (IMIP) dan Indonesia Huabao Industrial Park (IHIP)—yang masuk dalam Proyek Strategis Nasional, berfokus pada hilirisasi nikel. Namun, proses produksi nikel diketahui menghasilkan emisi gas rumah kaca (GRK) dalam jumlah besar.
“Sektor industri dan perkebunan sama-sama terdampak. Industri menghasilkan emisi tinggi, sementara perkebunan semakin rentan terhadap perubahan iklim,” kata Rezky.
Data indeks risiko bencana menunjukkan Provinsi Sulawesi Tengah berada pada kategori risiko sedang dengan skor 140,56. Namun kondisi berbeda terlihat di tingkat kabupaten. Morowali dan Morowali Utara justru mencatat skor tertinggi, masing-masing 173,25 dan 174,82.
“Morowali Utara adalah daerah dengan indeks risiko bencana tertinggi. Ini harus menjadi perhatian serius pemerintah daerah dan semua pihak,” tegasnya.
Rezky juga menyoroti pentingnya implementasi Peraturan Presiden No. 98 Tahun 2021 yang mengatur pelaksanaan NDC (Nationally Determined Contribution) Indonesia dalam upaya penurunan emisi dan adaptasi perubahan iklim.
“Kita mesti bersikap solutif dan menyelaraskan aksi iklim secara bersama-sama. Pemerintah, non-pemerintah, dan masyarakat harus terlibat aktif. Apalagi Morowali Utara, daerah saya sendiri, yang memiliki risiko tertinggi,” tambahnya.
Dikutip dari IRID.or.id, meningkatnya cuaca ekstrem telah memukul sektor mata pencaharian masyarakat, khususnya perkebunan, pertanian, dan perikanan. Salah satu contoh terjadi di Kecamatan Lemboraya, Morowali Utara, di mana petani karet merasakan langsung dampaknya.
Cuaca panas dan hujan yang tidak menentu membuat pertumbuhan pohon karet terganggu dan menurunkan produktivitas. Hal ini berimbas pada menurunnya pendapatan masyarakat.
Mengakhiri penyampaiannya, Rezky mengajak seluruh elemen masyarakat untuk tidak lengah menghadapi ancaman iklim yang semakin nyata.
“Kita jangan lagi berlehai-lehai terhadap situasi daerah hari ini. Mari menjaga dan menikmati ekosistem hari ini, lalu beradaptasi dengan baik dan bijak, agar anak cucu kita nanti dapat merasakan nikmat yang sama dengan kita,” tegasnya.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar