Cerita Pemilik Penginapan Rumah Singgah Sederhana Rp50 Ribu per malam di Kolonodale
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Rabu, 12 Nov 2025
- visibility 37
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
KOLONODALE, Beritamorut.com — Di lorong kecil Mangga Dua, tepat di belakang kompleks Kantor Koramil Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara (Morut), berdiri sebuah rumah sederhana yang kini menjadi tempat singgah bagi siapa saja yang membutuhkan tempat beristirahat dengan biaya yang sangat terjangkau.
Pemiliknya adalah Ratna Mahide Dg Siamme, atau yang lebih akrab disapa Mama Susan. Dengan senyum ramah dan tutur lembut, perempuan paruh baya ini menyambut siapa pun yang datang ke rumahnya, bukan sekadar sebagai tamu, tetapi sebagai keluarga.
“Saya hanya ingin membantu. Kalau bisa meringankan beban orang lain, kenapa tidak?” ucapnya dengan pelan
Di tengah zaman serba mahal, di mana tarif penginapan sederhana pun bisa mencapai ratusan ribu rupiah per malam, Mama Susan justru menawarkan sesuatu yang hampir tak masuk akal: Rp50 ribu per malam.
Dengan tarif itu, tamu sudah mendapatkan kamar bersih, tempat tidur nyaman, kamar mandi, dan kipas angin. Bukan mewah, tapi cukup untuk melepas lelah setelah perjalanan jauh.
Namun, bagi Mama Susan, penginapan itu bukanlah bisnis. Ia menyebutnya “ladang kebaikan”, tempat di mana ia bisa menyalurkan rezekinya untuk orang lain.
“Saya pungut Rp50 ribu itu untuk biaya listrik saja, bukan mau cari untung. Kadang ada juga yang tak punya uang, tetap saya kasih tempat tidur. Yang penting mereka sopan dan tahu menghargai,” ujarnya pelan.
Tak jarang, penginapan sederhana ini menjadi tempat bernaung bagi keluarga dari luar daerah yang datang ke Kolonodale untuk mengurus keluarga mereka yang sedang sakit di rumah sakit.
Mama Susan bahkan menyiapkan satu kamar khusus, lebih luas dan tenang, bagi mereka yang perlu tinggal lebih lama.
“Kalau untuk orang yang sedang jaga keluarga sakit, saya kasih harga Rp200 ribu saja untuk seminggu. Kasihan kalau mereka harus keluar biaya besar,” tuturnya.
Kebaikannya tak berhenti di situ. Ia kerap menyediakan kopi, teh, minuman dingin, bahkan nasi dengan mie goreng dan telur. Kadang, tamu yang sedang kehabisan ongkos pun masih diberinya kopi gratis,
“Namanya juga rezeki, kalau saya bisa bantu, saya bantu. Siapa tahu nanti anak-anak saya juga ditolong orang di tempat lain,” katanya sambil tersenyum
Mama Susan dan suaminya dikaruniai lima anak, semuanya kini sudah dewasa dan hidup mandiri di rumah masing-masing.
Kamar-kamar yang dulu dipenuhi tawa anak-anak kini dimanfaatkan kembali, bukan untuk disewakan demi keuntungan, tapi sebagai ladang amal dan pahala.
“Daripada kosong, lebih baik ditempati orang yang butuh. Kan sama-sama dapat berkah,” katanya.
Kini, ada sekitar 10 kamar di rumahnya yang disediakan untuk para tamu.
Beberapa untuk pelancong, sebagian untuk keluarga yang datang dari jauh, dan beberapa lainnya kadang disiapkan bagi tamu yang tak mampu membayar.
Meski murah dan penuh kebaikan, Mama Susan tetap tegas soal aturan. Ia tidak segan menolak tamu yang datang bukan dengan niat baik.
“Saya larang keras yang bukan suami istri datang menginap berdua. Ini rumah saya, bukan tempat maksiat. Saya ingin tempat ini tetap bersih, terhormat, dan diberkahi Allah,” tegasnya.
Ia juga berharap setiap tamu yang datang mengucapkan salam, menjaga sopan santun, dan berpamitan dengan baik ketika pergi.
“Saya anggap semua tamu seperti keluarga sendiri. Kalau datang dengan salam, pulang pun sebaiknya pamit. Itu tanda saling menghargai,” ucapnya dengan lembut.
Kisah Mama Susan adalah contoh nyata bahwa kebaikan tidak selalu datang dari orang kaya, tapi dari hati yang tulus.
Di tengah hiruk pikuk kehidupan modern, masih ada sosok sederhana yang percaya bahwa menolong orang lain adalah bentuk ibadah yang paling indah.
Rumah singgah milik Mama Susan di Lorong Mangga Dua ini bukan hanya tempat beristirahat, tetapi juga tempat belajar tentang arti kemanusiaan, ketulusan, dan rasa syukur.
Sebuah kisah kecil dari Kolonodale, yang memberi kehangatan di tengah kehidupan yang sering terasa dingin.
- Penulis: Redaksi Beritamorut
























































Saat ini belum ada komentar