Syarifudin Mbeo, Penjual Ikan yang Jadi Calon Kades Onepute
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Sabtu, 18 Okt 2025
- visibility 9
- print Cetak

Foto: Syarifudin Mbeo (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Morowali Utara — Di balik aroma ikan dan hiruk-pikuk aktivitas di pasar, berdiri sosok sederhana yang penuh semangat pengabdian. Ia adalah Syarifudin Mbeo, atau akrab disapa Fudin, seorang penjual ikan asal Desa Onepute, kecamatan Petasia Barat, yang kini dikenal sebagai tokoh muda penuh inspirasi di tanah kelahirannya.
Lahir di Onepute pada 14 April 1981 (44 tahun), Fudin tumbuh di lingkungan bantaran sungai Laa yang terbiasa dengan kerasnya perjuangan hidup dan banjir. Dari pekerjaan menjajakan ikan hasil tangkapan nelayan tradisional, ia belajar tentang arti perjuangan, kejujuran, dan pentingnya saling menolong. Profesi itu masih ia jalani hingga kini—bukan sekadar mencari nafkah, melainkan juga menjadi ruang untuk terus dekat dengan masyarakat.

Foto: Syarifudin Mbeo dan Istri (IST)
“Bagi saya, jual ikan bukan hanya soal untung dan rugi, tapi tentang hubungan antar manusia,” ujarnya suatu ketika kepada warga.
Dan benar adanya, banyak kisah kecil yang mencerminkan ketulusan hatinya. Salah satu warga bahkan bercerita, Fudin kerap meminjamkan mobil pribadinya yang biasa dipakai berjualan ikan kepada warga yang membutuhkan, bahkan di tengah malam, tanpa pamrih.
Perjalanan Fudin tak berhenti di pasar ikan. Semangatnya untuk membangun desa mengantarkannya menapaki berbagai tanggung jawab sosial. Ia pernah menjabat sebagai perangkat desa, kepala dusun, dan pengurus LPMD, sebelum akhirnya dipercaya menjadi Ketua Karang Taruna. Dalam setiap perannya, ia selalu membawa semangat gotong royong dan kepedulian.
Kini, di usianya yang ke-44, Fudin siap melangkah lebih jauh dengan mencalonkan diri dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) Onepute di tahun 2026 nanti. Motivasi utamanya sederhana namun kuat: mensejahterakan masyarakat, terutama para nelayan tradisional yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi desa.
“Desa ini punya banyak potensi, dari nelayan yang 90% jadi mata pencaharian, sampai anak mudanya. Saya ingin semuanya tumbuh bersama,” ungkapnya penuh keyakinan.
Tak hanya dirinya, sang istri tercinta Yesni (Nining) juga aktif dalam berbagai kegiatan sosial di desa. Mereka adalah pasangan yang dikenal hangat dan mudah bergaul, membesarkan dua anak laki-laki—Mohammad Farel dan Mohammad Falen—dengan nilai-nilai kerja keras dan keikhlasan.
Sebagai seorang penjual ikan, Fudin telah membuktikan bahwa pengabdian tidak harus lahir dari kemewahan, tetapi dari hati yang tulus untuk berbuat bagi sesama. Ia adalah contoh nyata bahwa dari pasar yang sederhana, bisa tumbuh seorang pemimpin yang membawa harapan bagi banyak orang.
- Penulis: Redaksi Beritamorut






































Saat ini belum ada komentar