Harga Gas Elpiji 3 Kg di Morut Tembus 70 Ribu
- account_circle Redaksi Beritamorut
- calendar_month Kamis, 30 Jan 2025
- visibility 11
- print Cetak

Foto: illustrasi gas 3 kg (IST)
info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
MORUT- Para pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Kabupaten Morowali Utara (Morut) kini tengah menghadapi tantangan besar akibat lonjakan harga bahan pokok yang sangat signifikan. Kenaikan harga barang-barang penting, khususnya gas elpiji 3 kilogram dan beras telah berdampak buruk pada kelangsungan usaha mereka.
Keluhan-keluhan terkait harga bahan pokok ini semakin banyak terdengar, sementara pengawasan terhadap kenaikan harga dinilai masih kurang.
Melonjaknya Harga Gas Elpiji 3 Kg
Salah satu masalah yang paling dirasakan oleh pelaku UMKM adalah kenaikan harga gas elpiji 3 kilogram yang melonjak tajam. Gas yang biasanya menjadi kebutuhan utama untuk memasak, baik bagi rumah tangga maupun pelaku UMKM di sektor kuliner, kini mengalami kenaikan harga yang signifikan. Harga gas elpiji 3 kg menembus 70 ribu tergantung dari lokasi dan distribusi.
“Gas langka, Harga gas elpiji 3 kilo 55 ribu-70 ribu saat ini,” ujar salah satu UMKM desa Tompira
Peningkatan harga gas ini membuat biaya operasional para pelaku UMKM, seperti warung makan, restoran kecil, hingga usaha katering, meningkat pesat. Beberapa pemilik usaha mengungkapkan bahwa mereka terpaksa menaikkan harga jual produk untuk menutupi biaya tambahan ini, namun hal tersebut berisiko menurunkan daya beli konsumen.
Kenaikan Harga Bahan Pokok Lainnya
Selain gas elpiji, harga bahan pokok lainnya juga ikut meroket. Seperti yang terpantau di pasar tradisional, harga gula, minyak goreng, dan beras juga mengalami lonjakan.
“Beras 10 kilo naik dari 140 ribu jadi 150 ribu,” ujar Saida
Kurangnya Pengawasan dan Dampak pada UMKM
Salah satu faktor yang turut memperburuk situasi ini adalah minimnya pengawasan dari pihak berwenang terhadap kenaikan harga bahan pokok dan gas elpiji. Banyak pelaku UMKM dan masyarakat setempat yang merasa tidak mendapatkan solusi atau bantuan yang cukup untuk mengatasi masalah ini.
Kenaikan harga yang tidak terkontrol, menurut beberapa pihak, seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah daerah. Banyak warga yang berharap agar pengawasan harga barang-barang pokok dilakukan dengan lebih ketat, dan adanya tindakan yang tegas terhadap pihak-pihak yang diduga melakukan spekulasi harga atau penimbunan barang.
“Seharusnya ada pengawasan yang lebih ketat agar harga bahan pokok ini tidak melonjak begitu tinggi. Kami sebagai pelaku UMKM tidak hanya tertekan dengan harga bahan baku yang semakin mahal, tetapi juga dengan daya beli masyarakat yang semakin menurun,” ujar Siti, pemilik usaha
Harapan dan Solusi dari Pemerintah
Menghadapi keluhan ini, sejumlah pelaku UMKM berharap adanya intervensi dari pemerintah daerah untuk menstabilkan harga barang-barang penting. Beberapa solusi yang disarankan antara lain adalah pemberian subsidi bagi pelaku UMKM, pendistribusian bahan pokok dengan harga yang lebih terjangkau, dan peningkatan pengawasan terhadap distribusi gas elpiji.
Selain itu, banyak yang berharap pemerintah dapat bekerja sama dengan pihak distributor untuk mengatur harga barang-barang pokok, sehingga pelaku UMKM bisa mendapatkan pasokan bahan baku dengan harga yang wajar dan terjangkau.
Bupati Morowali Utara, dalam beberapa kesempatan, sudah menyatakan komitmennya untuk terus memantau kondisi pasar dan mengupayakan langkah-langkah yang dapat menurunkan harga bahan pokok. Namun, implementasi kebijakan yang tepat dan cepat dirasa sangat dibutuhkan untuk membantu mengatasi krisis harga yang tengah melanda.
Dengan situasi yang semakin sulit ini, pelaku UMKM berharap agar pemerintah dapat segera mengambil langkah-langkah strategis agar beban yang mereka hadapi dapat sedikit berkurang, sehingga mereka bisa terus menjalankan usaha mereka tanpa terlalu terbebani oleh harga yang semakin tinggi.
Dalam waktu yang tidak terlalu lama, diharapkan adanya evaluasi dan tindakan yang jelas, agar perekonomian di Kabupaten Morowali Utara, terutama sektor UMKM, dapat kembali stabil dan berkembang.
- Penulis: Redaksi Beritamorut





































Saat ini belum ada komentar