Breaking News :
light_mode
Trending Tags
Beranda » Berita Daerah » 288 Siswa di Bangkep Diduga Keracunan Ikan Cakalang dari MBG, DPRD Dorong Audit Menyeluruh

288 Siswa di Bangkep Diduga Keracunan Ikan Cakalang dari MBG, DPRD Dorong Audit Menyeluruh

  • account_circle Redaksi Beritamorut
  • calendar_month Jumat, 19 Sep 2025
  • visibility 8
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Bangkep – Sebanyak 288 siswa di Kabupaten Banggai Kepulauan (Bangkep) tercatat mengalami keracunan makanan bergizi (MBG) di sekolah masing-masing. Data resmi RS Trikora per Kamis, 18 September 2025 menyebutkan 242 siswa telah pulang, sedangkan 46 lainnya masih dirawat.

Sekretaris Fraksi PDIP Perjuangan DPRD Bangkep, Erik Lauw, ST., M.Eng, menceritakan situasi padat di RS Trikora saat ratusan siswa dirawat. “Jadi saat kasus ini mencuat dan akhirnya DPRD mendapat informasi, beberapa anggota legislatif termasuk Ketua DPRD langsung ke lokasi. Kami membantu koordinasi agar anak-anak kami dapat ditangani dengan baik,” ujarnya.

Erik menuturkan, pada Kamis pagi dirinya bersama Ketua DPRD kembali meninjau RS Trikora. “Ada siswa baru yang masuk RS, termasuk yang sebelumnya sudah diizinkan pulang pukul 03.00 dini hari, tetapi kembali lagi siang harinya karena belum sembuh betul atau kambuh,” ungkapnya.

Menurut Erik, situasi hari itu sudah tidak sepadat hari sebelumnya karena sebagian besar siswa telah pulang. “Kalau melihat langsung, saudara-saudara pasti sedih sekali. Situasi hari ini tidak se-crowded kemarin,” katanya.

Dari informasi yang dihimpun, dugaan penyebab keracunan adalah ikan cakalang yang tidak layak konsumsi. Gejala yang dialami para siswa cukup mengkhawatirkan, mulai dari gatal-gatal, mual, muntah, bengkak pada wajah, gatal pada tenggorokan, sesak napas, pusing, hingga sakit kepala.

Atas kejadian ini, Erik Lauw mendesak agar DPRD segera menggelar rapat dengar pendapat (RDP) dengan pihak terkait, termasuk penanggung jawab Program MBG. “Kejadian ini bukan hal biasa sehingga perlu penyelenggara daerah ikut terlibat melakukan pengawasan,” tegasnya.

Ia juga menekankan pentingnya audit menyeluruh. “Perlu dilakukan audit secara keseluruhan mulai dari proses pengadaan bahan, penyimpanan, proses masak, hingga pengantaran,” pungkasnya.

  • Penulis: Redaksi Beritamorut

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

expand_less