Cerita Perjalanan Arman Marunduh, Pendiri Sekolah Gratis GARASI di Morowali Utara

BERITA MORUT731 views

MOROWALI UTARA – Menyetarakan pendidikan di daerah tidaklah mudah, tetapi bukan mustahil dilakukan, prinsip inilah yang dipegang teguh Arman Purnama Marunduh yang diberi simbol sebagai loyalitas guru tanpa pamrih peduli pendidikan di Kabupaten Morowali utara, Provinsi Sulawesi Tengah.

Kehidupan Arman adalah kisah inspiratif seorang sastrawan Inggris dan Prancis untuk tunas bangsa di Kabupaten Morowali Utara.

Bagi Arman pendidikan sudah selayaknya menjadi hak bagi setiap orang sesuai dengan amanah Undang-Undang.

Namun tak semua orang beruntung untuk bisa merasakan maninya pendidikan.

Jangankan untuk mengenyam pendidikan di lembaga sekolah, kadang untuk sekadar makan untuk menyambung hidup pun sulit.

“Tak jarang anak-anak jaman sekarang masih ditemukan banyak yang tidak bisa mendapatkan pendidikan yang layak dan berkualitas padahal mereka adalah generasi penerus bangsa yang sudah seharusnya mendapatkan bekal kehidupan melalui pendidikan,” cerita Arman.

Minimnya fasilitas dan kualitas bahkan kurang sadarnya orangtua akan pentingnya pendidikan pun menjadi salah satu faktor yang tidak bisa dielakkan bagi anak-anak yang akhirnya tidak bisa mendapat pendidikan yang layak.

Keprihatinan Arman Marunduh akan pendidikan di tanah kelahirannya menjadikan ia berani untuk mendirikan sebuah lembaga pendidikan di Morowali Utara yang dia beri nama Lembaga Peduli Pendidikan sebagai pregram sekolah gratis melalui sekolah gratis GARASI.

Alumni Fakultas Sastra UGM itu akhirnya pulang ke kampung halamannya untuk mengabadikan hidup dan membuka sekolah di Jalan Tarundungi, Gunung Radio, Kelurahan Bahontula, Kecamatan Petasia, Kolonodale, Kabupaten Morowali Utara.

“Di tempat yang sangat sederhana itu sudah memiliki 200 murid yang dibagi dalam tiga kelas yaitu kelas Kolonodale, kelas Desa Koromatantu dan kelas Desa Tiu Kecamatan Petasia Barat,” sebutnya.

Dari wadah pendidikan sederhana yang disediakan Arman itulah lahir peserta didik dengan pola pikir dan emosional yang terarah, menguasai kurikulum serta menguasai bahasa Inggris baik secara tulisan maupun lisan.

Kata Arman, kegiatan belajar mengajar dilakukan sama halnya dengan sekolah pada umumnya yakni hari Senin sampai Jumat dan dimulai pukul 14.00 Wita sampai 17.00 Wita.

“Disamping materi yang standar nasional, kami juga memberikan permainan dna memberikan secara cuma-cuma buku cetak bahan ajar, buku tulis dan alat tulis secara gratis,” kata Arman.

Patut diapresiasi karena Arman menjalankan sekolah tersebut dengan pembiayaan yang dilakukan secara swadaya dari uang pribadi, sumbangan donatur, bank sampah di mana peserta didik di sekolah sambil membawa minimal dua botol plastik sampah minuman dan kardus bekas ke sekolah atau sampah lainnya.

“Kami juga melakukan penjemputan sampah ke rumah-rumah masyarakat yang kemudian kami pilah dan jual kembali sebagai sumber pendapatan kami untuk menjalankan operasional sekolah,” tambah Arman.

Arman punya harapan besar agar program pendidikan yang ia jalankan bisa mempunyai multiply effect yaitu membersihkan lingkungan dari sampah plastik yang sulit terurai di alam.

“Dari hasil sampah inilah kami gunakan untuk membeli buku, alat tulis dan puji syukur kami sudah mempunya perpustakaan mini sebagai tempat anak membaca dan belajar,” tuturnya.

“Kami juga mendapat sumbangan dari Dinas Perpustakaan Provinsi Sulteng,” tambahnya.

Sekolah tersebut bukan hanya menguntungkan untuk dirinya sendiri melainkan menyempatkan waktu juga berbagi dengan sekolah lainnya.

Arman sudah punya jadwal rutin melaksanakan kunjungan dan pembagian buku serta alat tulis gratis ke sejumlah sekolah yang sangat terpencil dan tertinggal.

“Perlu diketahui bahwa semua tenaga pengajar adalah sukarela dan tanpa digaji sepeser pun,” ungkap Arman.

Meskipun sudah berbagi dengan sekolah lainnya, Arman masih punya banyak keinginan dan kebutuhan untuk mengembangkan sekolah yang ia dirikan. Arman akui membutuhkan mesin pencacah sampah plastik agar sampah yang ia jual bisa lebih tinggi.

“Sekolah kami juga masih memerlukan meja dan kursi, buku bahan ajar, buku tulis dan fasilitas belajar lainnya karena kami tetap mengutamakan kualitas pendidikan dan kenyamanan murid,” kata Arman.

Arman menjelaskan Kabupaten Morowali Utara adalah daerah termuda di Sulteng. Berdasarkan data pokok pendidikan dasar dan menengah Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI terdapat 214 sekolah menyebar di 10 kecamatan di Morowali Utara.

Dari data itu sekolah yang ada terutama yang berada di wilayah pedalaman masih sangat memprihatinkan ditambah tenaga pengajar yang jumlahnya sangat terbatas bahkan dengan kualitas yang masih jauh dari harapan.

“Karena inilah menggugah hati nurani bagi kami Lembaga Peduli Pendidikan untuk mendirikan sebuah wadah pendidikan non profit bagi anak,” cerita Arman.

“Saya memang punya nazar waktu menuntut ilmu di Yogyakarta untuk kembali ke tanah kelahiran dan mendirikan sekolah gratis yang berkualitas,” lanjut Arman.

Lembaga Peduli Pendidikan Morowali Utara melalui kelas gratis GARASI MEAMBO yang merupakan bahasa daerah asli Suku Mori yang artinya baik, bagus, indah melalui sekolah gratisnya yang diperuntukan bagi anak-anak mulai usia 5-12 tahun.

“Tingkatan pendidikan setara SD, SMP dan kami utamakan anak-anak kurang mampu atau berada di daerah pedalaman,” tuturnya.

Komentar