oleh

Menjaga Harmonisasi Ditengah Perbedaan (Oleh. Faisal Daeng Siame, S.H.I, Rais Syuriah PCNU Morut)

MENJAGA HARMONISASI DITENGAH PERBEDAAN
(Oleh. Faisal Daeng Siame, S.H.I, Rais Syuriah PCNU Morowali Utara)

Khotbah Hari Jumat, 20 Januari 2023

 

الحَمْدُ لِلّٰهِ الْمَلِكِ الدَّيَّانِ، وَالصَّلَاةُ وَالسَّلَامُ عَلَى مُحَمَّدٍ سَيِّدِ وَلَدِ عَدْنَانَ، وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ وَتَابِعِيْهِ عَلَى مَرِّ الزَّمَانِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَّا إِلهَ إِلَّا اللهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيْكَ لَهُ الْمُنَـزَّهُ عَنِ الْجِسْمِيَّةِ وَالْجِهَةِ وَالزَّمَانِ وَالْمَكَانِ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ الَّذِيْ كَانَ خُلُقُهُ الْقُرْآنَ أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ الرَّحْمٰنِ، فَإنِّي أُوْصِيْكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللهِ المَنَّانِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ: وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا ۗ وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلَّا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَىٰ عَقِبَيْهِ ۚ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلَّا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ ۗ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ ۚ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sebagai salah satu rukun dalam khutbah Jumat, khatib mengajak kepada seluruh jamaah untuk senantiasa memperkuat dan meningkatkan komitmen keimanan dan ketakwaan kepada Allah swt. Allah swt telah menjanjikan dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 bahwa orang yang paling bertakwa akan mendapatkan posisi yang paling mulia di sisi Allah swt.

اِنَّ اَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللّٰهِ اَتْقٰىكُمْ
Artinya: “Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa”.

Jama’ah Jum’at Rahimakumullah

Sebelum menegaskan tentang keistimewaan orang bertakwa, dalam Al-Qur’an surat Al-Hujurat ayat 13 ini Allah mengingatkan kepada kita untuk menyadari bahwa perbedaan-perbedaan yang ada di dunia ini merupakan sunnatullah. Allah menciptakan adanya laki-laki dan perempuan, adanya suku-suku dan bangsa yang ada di dunia ini bukan untuk saling berpecah belah. Namun semuanya itu dalam rangka saling kenal-mengenal.

يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ اِنَّا خَلَقْنٰكُمْ مِّنْ ذَكَرٍ وَّاُنْثٰى وَجَعَلْنٰكُمْ شُعُوْبًا وَّقَبَاۤىِٕلَ لِتَعَارَفُوْا

Artinya: “Wahai manusia! Sungguh, Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan, kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal”.

Sehingga menjadi sebuah keniscayaan bagi kita untuk senantiasa bersyukur kepada Allah swt atas karunia kedamaian dan ketenangan yang telah tercipta di tanah air Indonesia, khususnya pada daerah kita Kabupaten Morowali Utara.. Di tengah kebinekaan suku, budaya, dan agama yang dimiliki masyarakat Indonesia, kita dapat menjalankan berbagai aktivitas kehidupan tanpa ada gangguan dan konflik, terlebih peperangan akibat perbedaan-perbedaan yang ada. Tengoklah apa yang telah menimpa negara-negara di Timur Tengah. Konflik yang berkepanjangan yang tak kunjung selesai hingga kini. Nyawa yang hilang sudah tak terhitung jumlahnya, kerugian materi pun tak bisa dihindari. Itu semua terjadi karena keegoisan diri manusia. Di negeri ini pun pernah punya sejarah kelam, tragedi kemanusiaan yang pernah terjadi di Kota Poso dan Ambon yang hingga kini masih menyisakan luka dan pilu bagi keluarga korban. Lalu masihkah kita tidak bisa menerima perbedaan…??? Padahal perbedaan adalah sunnatullah, Keberagaman dalam sebuah komunitas adalah keniscayaan, keragaman dalam sebuah kehidupan adalah rahmat, jika kesemuanya itu bisa kita kelola dengan baik. Tanpa ada pemaksaan untuk harus sama. Maka perdamaian akan terus terjaga di Negara Kesatuan Republik Indonesia yang kita cintai ini.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik, Indonesia memiliki 1.340 suku dan sub suku bangsa dengan berbagai macam agama yang dianut. Tingginya keragaman ini harus kita jaga sebagai sebuah rahmat Allah swt yang menjadikan bumi Indonesia indah dan damai. Jika tidak bisa mengelolanya dengan baik, maka tentu bisa menjadi potensi besar munculnya konflik horisontal. Di antara kunci penting dalam mempertahankan dan mewujudkan kedamaian di tengah perbedaan – perbedaan ini adalah senantiasa menerapkan prinsip moderat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Termasuk juga moderat dalam beragama.

وَكَذَٰلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا

Artinya: “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.”

Sikap moderat atau memposisikan diri di tengah-tengah, atau tidak berlebih-lebihan dalam beragama atau ghulluw ini, mampu memunculkan sikap toleransi yang berbuah ketenangan dalam kehidupan. Sikap moderat tidak mudah mengkafirkan orang lain, tidak mudah menyesatkan orang lain, tidak mudah menyalahkan orang lain, tidak menganggap kelompoknya lebih baik dari kelompok yang lain. Sikap moderat senantiasa memposisikan diri selalu berada di tengah-tengah.
Menghindari sikap dan beragama yang berlebih-lebihan melampaui batas ini telah ditegaskan dalam Al-Qur’an surat Annisa ayat 171:

يٰٓاَهْلَ الْكِتٰبِ لَا تَغْلُوْا فِيْ دِيْنِكُمْ وَلَا تَقُوْلُوْا عَلَى اللّٰهِ اِلَّا الْحَقَّ
Artinya: “Wahai Ahli Kitab, janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu, dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah kecuali yang benar.”

Rasulullah pun telah mengingatkan dalam haditsnya:
خَيْرُ الْأُمُوْرِ أَوْسَطُهَا

Artinya: “Sebaik-baik urusan ialah yang dilakukan dengan biasa-bisa atau sedang-sedang saja.”

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Sikap moderat dalam beragama di era banjir informasi saat ini pun semakin mendapat tantangan yang besar. Melalui internet khususnya media sosial banyak ditemukan narasi-narasi berbungkus agama yang melakukan provokasi untuk berprilaku berlebih-lebihan dalam beragama. Bagi mereka yang sudah memahami nilai-nilai ilmu ajaran agama Islam, maka provokasi tersebut bisa ditangkal dengan mudah. Namun bagi mereka yang masih minim dalam pemahaman dan pengetahuan agama, provokosi ini bisa menjerumuskan kepada praktik-praktik tidak moderat.

Semangat dalam beribadah dan beragama harus diiringi dengan pemahaman ilmu agama yang dalam. Jika tidak, maka memunculkan hal yang tak baik di antaranya merasa paling benar sendiri dalam pengamalan agama dan menghakimi bahwa yang tidak sepaham sebagai sebuah kesalahan. Sehingga terjadilah monopoli kebenaran. Padahal, semakin dalam pemahaman ilmu agama yang dimiliki, maka seseorang akan semakin memahami esensi dari beragama dan beribadah. Oleh karena itu, saatnya bagi kita untuk terus belajar mendalami ilmu agama dari para ulama yang jelas silsilah guru dan keilmuannya dan memiliki sikap moderat dalam beragama. Syaikh Imam Al-Ghazali pernah berkata dalam kitabnya ” Faishilut Tafriqah bainal Islam wal zaindiqah”

لِأَجْلِ الجُهَّالِ كَثُرَ الخِلَافُ بَيْنَ النَّاسِ
وَلوْ سَكَتَ مَنْ لَايَدْرِيْ لَقَلَّ الخِلَافُ بَيْنَ الخَلْقِ

“Karena orang-orang dungulah terjadi banyak kontroversi di antara manusia. Seandainya orang-orang yang bodoh berhenti bicara, niscaya berkuranglah pertentangan di antara sesama.” (Imam al-Ghazali dalam kitab “Faishilut Tafriqah bainal Islâm wal Zindiqah”)

Dan ternyata apa yang disampaikan oleh Imam Ghazali dahulu, benar terjadi saat ini. Yakni munculnya orang-orang yang tidak punya ilmu tentang sesuatu namun sangat lantang untuk menyuarakan pendapatnya. Maka jika ini terus terjadi, tidak menutup kemungkinan kegaduhan yang akan berujung pada konflik akan terjadi.

Olehnya itu…untuk menghindari dan meminimalisir timbulnya konflik tersebut ..
Belajarlah menerima perbedaan…
Belajarlah menerima kerukunan
Berhentilah memvonis orang lain buruk…. Berhentilah menganggap diri ini baik…. Berhentilah menyalahkan orang lain…. Jangan sampai orang yang kita anggap berlumuran dosa justru kelak dia adalah penghuni surga karena taubatan nashuhanya… Sementara kita yang menganggap diri Sholeh, baik, banyak amalnya justru adalah penghuni neraka karena kesombongan kita akan diri sendiri.

Jama’ah Jum’at yang di muliakan Allah..

Mengakhiri khutbah Jum’at ini, khatib berpesan kepada jamaah sekalian dan seluruh warga Masyarakat Kabupaten Morowali Utara, bahwa dalam menyikapi insiden yang baru saja terjadi beberapa hari lalu terkait konflik industrial di PT.GNI, saya menghimbau kepada kita sekalian agar tetap menjaga stabilitas Keamanan dan kondusifitas daerah kita, dengan tidak mudah terprovokasi oleh berita-berita yang belum jelas kebenarannya. Saat ini hampir seluruh mata tertuju pada Daerah kita, jangan sampai hal ini dimanfaatkan oleh oknum-oknum tertentu yang tidak menginginkan kebersamaan dan harmonisasi yg terjalin saat ini berjalan dengan baik. Cukup sudah peristiwa kelam masa lalu menjadikan kita untuk lebih dewasa dalam menghadapi dan menyikapi segala sesuatu yang akan merugikan kita semua.

Jamaah Jumat rahimakumullah,

Semoga kita diberikan hidayah dan kekuatan oleh Allah swt dalam menjalankan segala perintah-Nya. Dan semoga kita diberi petunjuk dan kekuatan dari Allah untuk menggapai kebenaran dalam beragama serta diberikan kekuatan untuk menjauhi yang batil walaupun itu dibungkus dengan nama agama. Serta senantiasa diberikan pemahaman yang sempurna dalam menghadapi segala sesuatu yang terjadi.

اللَّهُمَّ أَرِنَا الْحَقَّ حَقًّا وَارْزُقْنَا اتِّبَاعَهُ، وَأَرِنَا الْبَاطِلَ بَاطِلًا وَارْزُقْنَا اجْتِنَابَهُ، بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ فِيْ الْقُرْأَنِ الْكَرِيْمِ، وَنَفَعَنِيْ وَإِيَّاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ الْأَيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ اللهُ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ تِلاَوَتَهُ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيْعُ الْعَلِيْمِ، وَاسْتَغْفِرُوْهُ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.

News Feed