oleh

PERJUANGAN NAKES DI MORUT, IKUT TERPAPAR SAMPAI MENGALAMI KEKERASAN FISIK

PERJUANGAN NAKES DI MORUT, IKUT TERPAPAR SAMPAI MENGALAMI KEKERASAN FISIK

Penulis: Hendly Mangkali

Menengok kisah perjuangan tenaga kesehatan (Nakes) dalam menangani pasien covid-19, salah satunya nakes di Puskesmas Baturube kecamatan Bungku Utara kabupaten Morowali Utara (Morut) yang berjaga setiap hari diruang pasien covid-19, ketika terpapar justru di tolak masyarakat bahkan mengalami kekerasan fisik.

Tak mudah tugas nakes saat wabah pandemi covid-19 melanda Negeri ini. Jika warga lain bisa menikmati saat-saat indah berkumpul bersama keluarganya menghabiskan waktu bersama, tidak bagi petugas nakes khususnya mereka yang menangani pasien covid-19. Mereka harus memberikan pelayanan terbaik bahkan dengan segala keterbatasan. Contohnya di Puskesmas Baturube, puskesmas yang aksesnya harus dilalui dengan kapal laut dari ibukota kabupaten Morowali Utara Kolonodale. Saat kasus covid-19 melonjak di Morowali Utara, bahkan di terapkan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level IV di Morut. Nakes jatuh bangun memberikan pelayanan, dan akhirnya mereka pun ikut terpapar.

Mirisnya bukannya memberikan dukungan akan perjuangan nakes, yang terkadang harus berbaring di semen ruang jaga melepas kelelahannya, sejumlah warga desa Uewaju justru menolak saat nakes akan di isolasi mandiri. Bahkan mereka melakukan pengrusakan fasilitas Puskesmas Baturube, yaitu mobil ambulance dan neon box, saat meluapkan kekesalan akan menolak nakes di isolasi di desanya.

Tahukah masyarakat, bahwa mereka nakes yang saat ini berjuang di Puskesmas Baturube dan disebagian besar Puskesmas yang ada di Morowali Utara adalah tenaga honorer bahkan ada yang hanya sukarela mengabdikan dirinya untuk memberikan pelayanan. Tidak ada jaminan apapun yang diberikan daerah dan Negara akan kepastian masa depan mereka menjadi aparatur sipil Negara. Bahkan mereka harus berjuang ikut dalam seleksi Calon pegawai Negeri Sipil (CPNS) yang tengah dibuka oleh pemerintah.

Wabah ini sedang mengajari kita untuk saling jaga, saling bantu, saling menguatkan, menunjukan sisi manusia dan kemanusiaan kita yang harus sadar, bahwa tidak ada satupun nakes yang menginginkan wabah ini.

Tetapi pada kenyataannya masih ada pihak-pihak yang sangat tidak manusiawi melakukan kekerasan bahkan di Puskesmas Baturube ada nakes yang ditendang di bagian dadanya. Masih Manusia kah mereka yang sedang bertingkah atas prosedur pelayanan yang sudah dilakukan dengan benar…?

Bahkan dalam vaksinasi pun kita mengenal istilah vaksinasi secara gotong royong. Ini isyarat penanganan pandemi dilakukan secara bersama-sama untuk tujuan meringankan semua pihak.

Tindakan pengrusakan fasilitas Negara di Puskesmas Baturube, tindakan main hakim sendiri dengan melakukan kekerasan terhadap nakes, bahkan pengambilan paksa jenazah pasien covid-19 adalah isyarat bagi penegak hukum untuk memberikan jaminan dan perlindungan atas tugas nakes yang dilindungi oleh undang-undang.

Bila ini dibiarkan akan menjadi preseden buruk bagi penegakan hukum di masa yang akan datang, sekaligus menegaskan turunnya nilai kemanusiaan dalam upaya penanganan covid-19 yang sedang dilakukan.

Foto: Nakes Puskesmas Baturube

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News Feed