SERBA SERBI

Opini: Almarhum Pak Ipe dan Ibu Holiliana (Bag 2)

Opini: Almarhum Pak Ipe dan Ibu Holiliana
(Bag 2)

Penulis: Hendly Mangkali

Pada bagian 1 tulisan saya menjelaskan terkait kapasitas dan kompetensi almarhum Aptripel Tumimomor yang tidak bisa disetarakan dengan Bunda Holiliana yang kini menjadi calon Bupati Morowali Utara (Morut)

Kita kilas balik ke belakang pasca kepergian almarhum, kemudian pada tanggal 02 april 2020 atau tepatnya 18 hari pasca almarhum meninggal, kami melakukan wawancara dengan orang terdekat dokter Andika Tumimomor yang saat itu sama-sama sedang dalam proses isolasi di kota Makasar terkait rencana dokter Andika yang adalah putra Almarhum maju sebagai calon Bupati Morut,

Kepastian dokter Andika Tumimomor maju pun ramai menjadi pembicaraan, dukungan pun saat itu mengalir kepada dokter Andika karna kecintaan warga kepada almarhum yang masih melekat,

Seiring berjalanya waktu, kami memperoleh informasi dokter Andika terganjal usia,

Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada,
syarat minimal seseorang mencalonkan diri sebagai kepala daerah.

Pasal 7 ayat (2) huruf e menyebutkan, calon gubernur dan wakil gubernur harus berusia paling rendah 30 tahun, sedangkan calon wali kota dan wakil wali kota serta bupati dan wakil bupati minimal berusia 25 tahun,

Dokter Andika Tumimomor yang lahir 05 November 1995 (Sumber: Akun media sosial) terganjal batas usia minimal.

Terganjalnya usia dokter Andika Tumimomor pun merubah strategi sehingga membuat Bunda Holiliana Tumimomor yang di dorong untuk maju sebagai calon Bupati Morut.

Pada kondisi tersebut menggambarkan peran para oportunis sangat mempengaruhi strategi politik yang tiba-tiba berubah.

Seorang calon kepala daerah yang di kelilingi oleh oportunis karna tidak memiliki kapasitas dan kompetensi yang memadai cenderung akan mengikuti keinginan orang-orang sekelilingnya yang berdampak pada pemerintahannya,

Hal ini bisa kita saksikan sejak awal debat kandidat Bupati dan wakil Bupati Morut di gelar, sampai debat kandidat ke-III atau yang terakhir dilaksanakan,

Dimana Bunda Holiliana jauh berbeda dari almarhum Pak Ipe dalam hal kepemimpinan, kemampuan pengetahuan, mengontrol emosi dan memberikan solusi atas permasalahan yang selama ini terjadi adalah hal yang menonjol terlihat,

Selama ini yang masyarakat ketahui baik almarhum Pak Ipe dan Bunda Holiliana adalah pribadi yang sangat peduli, pada hal tersebut harus diakui keduanya sejalan, kepedulian ini kemudian di jadikan bagian dari desain politik bahwa memimpin yang paling penting peduli,

Kabupaten Morowali Utara adalah daerah yang kekayaan alamnya sangat melimpah, 10 perusahaan tambang yang beroperasi, ada 3 smelter besar yang tengah dibangun, yang akan membuat para investor asing masuk Morut.

Disisi lain daerah memiliki sejumlah masalah lingkungan yang tidak terselesaikan, banjir hingga kini merendam ratusan lahan petani padi, jagung dan nilam, masalah lingkungan lain seperti dugaan tercemarnya mata air gunung Bahontula akibat aktivitas perusahaan pun terjadi,

Tentu perencanaan yang matang, pengalaman politik dan kemampuan seorang calon pemimpin harus memadai yang bisa menyelesaikan ini semua,

Morowali Utara butuh pemimpin yang paham mengelolah daerah, paham mengenai APBD dan punya kemampuan koordinasi ke Pusat, serta di dukung oleh mayoritas DPRD Morut.

Pemimpin yang dicoba-coba sudah pasti tidak bisa membawah daerah lebih baik, bahkan faktor oportunis akan menjadi masalah dalam menjalankan kepemimpinan,

Tentu jangan memilih pemimpin seperti membeli kucing dalam karung, kita harus memilih pemimpin yang punya kualitas dan kompetensi yang jelas,

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close