SERBA SERBI

TRADISI BANJIR DAN NASI KOTAK, GAYA PENCITRAAN YANG MENGGELITIK

TRADISI BANJIR DAN NASI KOTAK, GAYA PENCITRAAN YANG MENGGELITIK

(ASKETISME POLITIK BUKAN PADA TEMPATNYA)

Dalam 1 minggu terakhir Kolonodale dan sebagian besar Morowali Utara (Morut) di guyur hujan deras, jeritan warga pun ramai ikut “membanjiri” media sosial, air bercampur lumpur masuk rumah warga di tengah suasana menyambut Natal bagi mereka yang beragama Nasrani.

Hari ini 21 hektar lebih kebun jagung, padi, Nilam para petani di desa Sampalowo kecamatan Petasia Barat gagal panen.

Saya sangat sedih ketika warga desa Sampalowo menceritakan kondisi ini, desa tempat saya dan kedua orang tua saya lahir kembali jadi korban banjir, rasanya tidak adil apa yang terjadi hari ini. Kejadian ini bukan perkara tiba-tiba, tidak di duga, tidak bisa di prediksi kata salah satu kandidat Bupati Morut dalam debat terakhir beberapa hari lalu.

Sejak saya lahir di tahun 1983, kondisi banjir ini selalu terjadi. Yang makin parahnya hari ini, luapan sungai baik banjir di desa Sampalowo, Kolonodale dan sekitarnya bercampur lumpur dan semakin menjadi.

Apa tidak ada yang salah dengan semua aktivitas investor yang saat ini berjalan..? Apakah salah satu perusahaan yang beraktivitas di mata air Gunung Bahontula tidak menjadi ancaman bagi warga?

Pertanyaan itu sering tersampaikan, dan berlalu tersapu datangnya banjir tanpa upaya preventif, tidak ada langkah apapun terhadap persoalan pengrusakan lingkungan yang bisa dilakukan, yang menjadi domain dari Pemerintah Daerah Morut. Pada persoalan ini, kita tidak bicara pada persoalan terbitnya ijin perusahaan, lihatlah masyarakatmu hari ini,

Banjir terjadi, harusnya jadi tamparan bagi pihak-pihak yang merasa bertanggung jawab atas banjir.

Tetapi ditengah banjir, hari ini jumat 04 desember 2020 sebuah postingan media sosial salah satu akun pendukung pasangan calon Bupati Morut begitu menggelitik, saya menyimpulkan postingan gambar salah satu kandidat tengah berada di daerah banjir yang lumayan berdampak, dan tengah membagikan nasi kotak, juga pesan mengingatkan warga bahwa kandidat tersebut sangat peduli agaknya kurang tepat bagi saya.

Sekilas tak ada yang perlu di kritik dari postingan ini, andai yang melakukannya adalah Lembaga sosial peduli banjir, BPBD Morowali Utara, atau rekan-rekan saya dari organisasi pencinta alam.

Postingan dengan mengikut sertakan foto kandidat seorang calon pemimpin dengan pesan politik melalui nasi kotak di tengah banjir, menunjukan asketisme politik yang tidak pada tempatnya.

Banjir jangan di jadikan media pencitraan, harusnya ketika banjir terjadi. Kedua kandidat menyampaikan solusi kepada masyarakat apa yang akan dilakukannya jika terpilih nanti. Di posting di media sosial atau apapun, yang membuat semua masyarakat yakin jika anda terpilih masalah ini minimal berkurang.(Foto Banjir Kolonodale dan illustrasi nasi Kotak)

Penulis: Hendly Mangkali
(Penulis Kelahiran Desa Sampalowo, dan adalah Jurnalis media online Beritamorut.com)

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close