BERITA MORUT

PERNYATAAN KEPALA PKM MAYUMBA “BLUNDER”

BERIITAMORUT.COM- Pernyataan Kepala Puskesmas (PKM) Mayumba, Obed Tanonggi,SKM “Blunder”, hal ini terjadi dalam sebuah percakapan grup whatshap Info Morowali Utara (Morut) minggu (5/4), berawal dari curhatan pegawai puskesmasnya else, yang memang sedang berada di posko desa tiwaa, perbatasan antara Morut dan Poso, bercerita tentang kondisi mereka diperbatasan. Pegawai tersebut menyampaikan, keluh kesah mereka, bahkan honorer harus membeli mantel sebagai Alat Pelindung Diri (APD).

Pernyataan else, sontak membuat Obet sapaan Kepala PKM, bak kebakaran jenggot dan bereaksi mengatakan, “mohon kalau ada laporan, atau informasi baik yang bersumber dari staf PKM Mayumba, sebaiknya jangan dipercaya dulu..tolong klarifikasinya ke saya sebagai penanggung jawab di puskesmas” tulisnya di grup whatshap.

Bahkan Obet sempat menyebutkan stafnya, agar tidak sembarangan memberi informasi, Setelah itu else tidak memberikan respon apapun. Termasuk saat kami coba hubungi, lewat telpon, tidak ada jawaban.

Sekitar 30 menit kemudian, else memberikan kabar lewat telpon kepada berita morut, else menceritakan memang ada bantuan, dari berbagai Pihak Perusahaan, termasuk Dinkes Morut, tapi tidak mengcover kebutuhan mantel yang dijadikan APD, sementara dibeli tiap hari kenyataannya di posko, oleh kami. “Saya berharap anggota DPRD yang ada di grup itu bisa mendengar kami, seandainya mereka akan membahas anggaran, karna saya yang koordinir teman-teman diposko, termasuk honorer, mereka mengeluhnya ke saya, dan kami membeli sendiri memang mantel yang 10 ribu, dan setiap hari diganti”, ujarnya.

Kami mencoba melakukan wawancara lewat telpon, kepada petugas lain, yang tidak bersedia disebutkan namanya, “iya pak, seperti itu memang kondisi kami, beli mantel, pakai uang sendiri, saat kami tanyakan, dimana Kepala PKM?, “hari ini tidak datang ke posko, beliau lagi isolasi mandiri dirumah”, ujarnya.

Untuk mencari pembanding, kami melakukan penelusuran, wawancara kepada tenaga honorer PKM Petumbea, yang menjaga perbatasan didesa Dolupokarya, pintu masuk dari Sulawesi Selatan, “Di Posko ada bantuan APD 4 buah, dan jenggel 4 buah dari Dinkes, yang lain kami beli sendiri jas hujannya, pakai dana pribadi”, kata sumber kami.
Sementara tenaga honorer lain menjelaskan, soal jas hujan sebagai APD ini, “kalau saya hanya satu kali beli jas hujan, tidak saya ganti tiap hari, pulang dari posko saya cuci dan besok, saya pakai lagi pak”, ujarnya.

Konfirmasi yang kami lakukan via telpon, kepada sejumlah tenaga honorer, adalah catatan penting yang harus diperhatikan.

Sementara Kepala Puskesmas Tomata Kecamatan Mori Atas, Arif sapaan akrabnya, menggambarkan bahwa mereka sudah menganggarkan dari Dana BOK, “kami sudah berusaha semaksimal mungkin,
Masalah biaya anak anak di Posko, semua kami sdh anggarkan di BOK. Hanya saja semua harus menunggu proses LPJ.
Kami minta, tolong berikan kami semangat dalam memberikan pelayanan”, tulis Arif dalam pesan whatshap.

Kapus PKM Mayumba sendiri, memilih keluar dari grup whatshap begitu mendapat kritikan kami, karna apa yang disampaikannya di grup, tidak sesuai fakta dilapangan, dan perlu di evaluasi, karna dapat disebut “blunder” atau kesalahan besar.

Tentu fakta fakta diatas, jadi dasar bagi Inspektorat Morut, Melalui Kadisnya Sam Purnama Kandori, yang berjanji akan segera memeriksa OPD termasuk PKM, mengapa ada keluh kesah, ada pengeluaran sampai ke anak honorer, jika memang ada alokasi dana yang disediakan. Semoga semua pihak, tidak mengabaikan hak, terutama honorer dalam upaya penanganan Covid-19. Cukuplah bermain main dengan kegiatan yang lain, tapi pada penanganan wabah ini, tindak tegas yang berani bermain-main.

 

Redaksi

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close