BERITA DAERAH

Mengapa Persatuan menjadi penting meredam penularan pandemi Covid-19?”

“Mengapa Persatuan menjadi penting meredam penularan pandemi Covid-19?”

Oleh : Azman Asgar

Seluruh dunia di buat ketakutan, gelisah dan panik bercampur aduk oleh penyebaran virus Corona.

Hampir semua negara mengerahkan semua sumber daya yang mereka miliki dalam memerangi wabah Covid-19 yang setiap hari memakan korban jiwa, tidak sedikit juga negara terbilang sukses memerangi pandemi Covid-19, mulai dari Tiongkok, Korea Selatan, Singapura, terakhir Negara Paman Ho Vietnam.

Indonesia masuk peringkat kedua setelah Italy dengan jumlah korban terbanyak, baik yang dinyatakan positif sampai yang meninggal dunia. Data terakhir yang disampaikan otoritas pemerintah lewat Jubir penanganan Covid-19 semakin memberi kecemasan, ada 686 orang dinyatakan positif terjangkit Virus Corona, 30 orang telah dinyatakan sembuh sementara yang meninggal dunia berjumlah 55 orang (data : 24 Maret 2020).

Tidak hanya berhenti disitu, dilansir dari BBC com, seorang pakar Matematika dan simulasi ITB Nuning Nuraini mengatakan, jika penanganan penyebaran Covid-19 terkesan lamban dan tidak komprehensif, maka jumlah korban diprediksikan akan terus bertambah dari prediksinya sekitar 8.000 orang di bulan depan.

Itu artinya, semua tergantung dari cara pemerintah melakukan sebuah tindakan yang tepat dalam melawan penyebaran virus Covid-19.

Di Indonesia sendiri ada dua kebijakan yang kini menjadi pilihan otoritas pemerintah, mulai dari menjaga jarak (Social Distancing) dan Mengunci sebuah daerah (Lockdown). Dengan pertimbangan ekonomi, Pemerintah lebih memilih Social Distancing sebagai langkah meredam penularan virus Covid-19.

Faktanya, kebijakan Social Distancing tidak begitu efektif diterapkan di Indonesia, setiap hari jumlah korban terus meningkat, hampir semua daerah dinyatakan positif tertular virus Covid-19.

Pertanyaannya kemudian, seberapa efektif kebijakan Social Distancing atau bahkan Lockdown dalam meredam penularan Covid-19?

Bagi penulis, Keduanya bisa lebih efektif jika semua elemen mau bersatu dan bekerjasama melawan penyebaran virus Covid-19.

Pandemi Covid-19 ini tidak bisa dilawan hanya dengan seruan pemerintah atau bahkan dengan aparatus negaranya sekalipun, Persatuan yang dimaksud adalah keterlibatan semua komponen tanpa sekat identitas ataupun ideologi.

Bayangkan saja ketika otoritas pemerintah memberi pesan tegas terkait Social Distancing sampai himbauan “kerja dari rumah” bagi seluruh masyarakat Indonesia, sementara ada jutaan kelas pekerja yang formal maupun informal sedang bertaruh nyawa di pabrik-pabrik dan dijalanan hanya demi bertahan hidup dan menghidupi keluarganya.

Percaya atau tidak, Virus Corona tidak lebih menakutkan dari ancaman PHK serta ongkos makan dan sewa kontrakan bagi mereka. Itu sebabnya, sehebat apapun cara pemerintah menghimbau Social Distancing tidak akan membuat perubahan signifikan bagi pembatasan peredaran virus Covid-19.

Sekali lagi penulis mengingatkan begitu pentingnya sebuah persatuan semua elemen dalam menghadapi virus Covid-19. Pemerintah harusnya ikut melibatkan para pemodal besar yang berinvestasi di negeri ini dalam melawan penyebaran virus Covid-19, tidak hanya tokoh lintas agama, jajaran menteri dsb, bagi penulis itu belum cukup.

Mengapa melibatkan para pemodal itu juga tak kalah pentingnya?

Para kelas pekerja bisa lebih mudah melakukan Social Distancing jika perusahaan tempat mereka bekerja ikut berpartisipasi dalam bentuk memberhentikan sementara produksi kerja dengan meliburkan semua pekerjanya tanpa harus memberi ancaman PHK serta tetap memberi insentif kepada para pekerja selama diliburkan.

Semakin meluasnya penularan Covid-19 justru semakin membahayakan produksi bagi para pemodal itu, dalam teori ekonomi politik Marxisme, di dalam sistem Kapitalisme itu sendiri terdapat kontradiksi yang sulit dihindari oleh para pemodal. Misalnya, “adanya pengurangan tenaga kerja oleh pemilik industri (karena di ganti oleh mesin), sementara di satu sisi hasil produksinya hanya bisa mendapat untung lebih jika adanya daya beli dari kelas pekerja itu sendiri”.

Pun demikian dalam kasus virus Covid-19, jika para konglomerat maupun para pemodal besar itu mengabaikan begitu saja pandemi ini, ada begitu banyak kelas pekerja (khususnya pekerja di sektor Industri dll) yang berpotensi terjangkit virus Covid-19. Jikalau pun satu dari ribuan orang sudah terjangkit virus Covid-19, maka seisi pabrik yang bekerja harus di karantina secara massal, dengan sendirinya produksi industri juga akan berhenti beroperasi, dengan begitu pesan Marx “menggali lubang kuburannya sendiri” akan lebih cepat jika para pemodal besar itu mengabaikan begitu saja pandemi Covid-19 ini.

Virus Covid-19 tak punya batas wilayah atau identitas warga negara, apalagi ideologi. Dia menyerang siapa saja dengan begitu mudah, mampu membunuh puluhan sampai ratusan orang hanya dalam waktu 24 jam. Jika dibiarkan begitu saja, ini lebih ngeri dari perang dunia I dan II sekalipun.

Kita tak punya banyak waktu jika tidak segera memulai dari sekarang, disinilah ketegasan dan Marwah negara di uji dalam melindungi segenap warganya, memberikan pelayanan kesehatan gratis serta alat-alat kesehatan lainnya, tanggalkan kepentingan politik sesaat itu, negara harus memberi jaminan hidup selama masa Social Distancing bagi kelas pekerja formal dan informal yang tidak bisa memberlakukan “Work from Home”, hentikan membahas hal yang tidak penting, Omnibus Law dsb.

Bangun persatuan dalam bingkai kemanusiaan yang adil dan beradab (Sosio Nasionalisme), persatuan harus melintas batas negara, pun dengan kemanusiaan, hanya itu jalan untuk menang dalam memerangi Virus Covid-19 yang sudah semakin meluas.

Penulis : Ketua Partai Rakyat Demokratik Kota Palu (KPK PRD Palu)

Tags

Related Articles

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Close